Monthly Archive June 2019

Byprodifai

POLDA Jateng Jalin Kemitraan Dengan UNWAHAS

Sampangan –  Penandatanganan MoU oleh Kapolda Jateng, Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Drs. Dwi Priyatno dan Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Dr. H. Noor Achmad, menandai dimulainya kerjasama antar kedua belah pihak. Acara yang  berlangsung di kampus setempat tersebut dihadiri oleh pejabat teras, baik yang ada dijajaran Polda Jateng maupun Unwahas (23/10).

Maksud dari kesepahaman meliputi berbagai aspek, salah satunya yakni meningkatkan kualitas akademik dan sumber daya manusia sesuai dengan tugas dan fungsi kelembagaan masing-masing pihak, agar dapat menunjang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan bidang hukum.

Kapolda mengatakan, dengan adanya MoU ini saya persilahkan bagi  jajarannya yang berkeinginan melanjutkan kuliah bisa mendaftar di Unwahas. Ada wacana baru, tahun 2015 nanti penyidik POLRI harus perwira dan sarjana (S1).

Irjen Pol. Dwi Priyatno berharap, kemitraan ini nantinya tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat kampus, akan tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat yang berada disekitar kampus, khususnya terkait dengan kamtibmas.

Orang nomor satu dijajaran Kepolisian Jateng tersebut tidak lupa menyampaikan beberapa pesan kepada mahasiswa Unwahas agar memiliki visi dalam belajar, punya obsesi dan optimis. Tanamkan rasa ingin tahu, juga tanamkan mental spiritual.

Rektor Unwahas menyampaikan, lembaganya siap membantu POLRI dalam menjaga ketertiban masyarakat. Dirinya juga mempersilahkan bagi polisi yang berkeinginan kuliah di Unwahas, begitu pula Unwahas akan mengirimkan mahasiswanya untuk belajar di Kepolisian.

“Kerjasama ini juga meliputi aspek pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Program jangka pendek  kita prioritaskan untuk pendidikan. Kami akan mengirim mahasiswa untuk belajar di Kepolisian, khususnya mengenai pembinaan masyarakat”, tandas Rektor.

Dr. H. Noor Achmad menambahkan, kepada pihak kepolisian yang berkeinginan kuliah silahkan mendaftar di Unwahas. Di tempat kami  terdapat 7 fakultas dan 20  program studi (progdi), tinggal pilih mana yang diinginkan. Bagi polisi yang menginginkan studi Pasca Sarjana, tidak lama lagi kami juga akan membuka progdi baru untuk S3, yakni Islam Kebangsaan.

“Program studi yang satu ini lebih banyak mengkaji tentang hubungan Islam dan bangsa, bagaimana Islam membentuk bangsa, bagaimana bangsa itu berpengaruh terhadap Islam” jelas rektor diakhir wawancara.

(sumber : http://www.kopertis6.or.id/)

Byprodifai

Dari Studium General FAI Unwahas: Mahasiswa Berkarakter Unggul Songsong Indonesia Emas

Semarang (Pendis) – Komitmen pada nilai kebangsaan adalah bagian penting dari karakter yang harus dimilik oleh mahasiswa saat ini, untuk menyambut generasi emas Indonesia. Profil mahasiswa yang komitmen pada ke-Islaman dan ke-Indonesia-an menjadi sebuah keharusan.

Hal itu dikatakan Ruchman Basori Kepala Seksi Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama saat menjadi narasumber Studium General FAI Universitas Wahid Hasyim, Jumat (07/09) di Semarang.

Mengutip hasil riset The Mc Kensey Institute, Ruchman menerangkan bahwa Indonesia diprediksi akan menjadi negara ke-7 ekonomi dunia dan akan mengalami bonus demografi pada tahun 2035-2045. Inilah yang disebut sebagai Indonesia Emas. “Jika berkah demografi itu kita bisa kelola dengan baik, akan menjadi berkah tetapi jika tidak, akan menjadi musibah,” katanya.

Alumni IAIN Walisongo ini mewanti-wanti kepada mahasiswa agar terus belajar, mengaji dan mengkaji berbagai ilmu pengetahuan menyiapkan sebagai geneasi emas Indonesia. “Jadilah mahasiswa yang mempunyai keluasan pandang, mempunyai pemahaman keagamaan yang moderat dan menjadi bagian penting yang peduli pada sesama,” kata Ruchman.

Di akhir paparannya Kandidat Doktor Universitas Negeri Semarang ini mengharapkan agar mahasiswa Unwahas menjadi bagian penting melakukan counter wacana dan counter ideologi untuk menangkal paham keagamaan yang radikal. “Salah satu karakter yang harus ditumbuhkan anda semua sebagai generasi millenial adalah mencintai kedamaian dan kasih sayang dalam beragama,” katanya.

Ruchman mengatakan anda semua sudah tepat memilih Unwahas sebagai wasilah untuk menyambut masa depan Indonesia. Karakter, nilai dan tradisi aswaja akan menjadi bekal penting.

Nur Cholid, Dekan FAI Unwahas mengatakan pendidikan karakter menjadi instrumen penting menyiapkan generasi emas Indonesia. “Fakultas Agama Islam berkepentingan agar para mahasiswanya mempunyai karakter yang unggul ditengah dekadensi moral yang melanda bangsa ini,” ujar Nur Cholid.

Ditambahkan oleh Cholid, Studium General ini menjadi bekal penting para mahasiswa baru memahami dengan baik positioning mahasiswa FAI ditengah problem-problem kebangsaan dan keagamaan. “Ikutilah kuliah umum ini dengan baik untuk membuka wawasan dan pengetahuan tentang masa depan Indonesia,” tandasnya.

Studium General diikuti oleh seluruh mahasiswa baru tahun akademik 2018/2019, berjumlah 400 mahasiswa tersebar di 3 Jursan, PAI, Mualamat dan PGMI. Tampak hadir Wakil Dekan FAI Muhammad Ahsanul Husna, Ketua Jurusan PAI Laila Ngindana Zulfa dan Ketua Jurusan Mu`amalah Iman Fadhilah dan para dosen FAI Unwahas. (@viva_tnu/dod)

(Sumber : http://pendis.kemenag.go.id/)

Byprodifai

Pendidikan Pesantren Perlu Didasarkan pada Konsep Pendidikan Ramah Anak

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Hak-hak dasar sebagai anak harus terpenuhi sekalipun anak tersebut menjadi santri suatu pondok pesantren.

Terlebih anak juga jauh dari orang tuanya. Sehingga pendidikan yang diberikan perlu didasarkan pada konsep pendidikan ramah anak.

Hal itu disampaikan dosen Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Anas Rohman, dalam Focus Group Discussion bertema pendidikan ramah anak dari tinjauan psikologis maupun dari manajemen pengelolaan pendidikan ramah anak di pesantren yang digelar di Pondok Pesantren Ibrohimiyyah, Mranggen, Demak.

“Pondok pesantren yang notabene melaksanakan kegiatan pendidikan yang terintegrasi secara penuh selama 24 jam tentu harus lebih memperhatikan hak-hak dasar anak yang harus tetap terpenuhi meskipun para santri berada jauh dari orang tuanya,” katanya, dalam rilis kepada Tribunjateng.com, Selasa (13/11/2018).

Dengan demikian, tanggung jawab pengasuh maupun kyai pondok menjadi lebih berat karena tidak hanya selama anak-anak belajar, tetapi semua kegiatan yang dilakukan para santri menjadi tanggung jawab penggelola pondok seutuhnya.

Dikatakannya, berdasarkan hasil Focus Group Discussion yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa secara psikologis pendidikan ramah anak di pesantren harus dapat dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kondisi masing-masing anak dan memperhatikan semua kebutuhan anak baik secara jasmani maupun rohani dengan baik.

“Pendidikan ramah anak di Pondok Pesantren dapat dilakukan dengan menyediakan beberapa fasilitas penunjang kegiatan anak seperti arena bermain, tempat belajar, tempat tidur maupun tempat belajar yang nyaman bagi anak,” paparnya.

Anas menegaskan, penyelenggaraan pendidikan ramah anak harus dilaksanakan dengan memperhatikan berbagai kondisi anak karena pada dasarnya anak memiliki karakter yang berbeda sehingga dalam proses pendidikannya tidak dapat disamakan.

Hal yang terpenting, lanjutnya, tentunya harus ada jalinan komunikasi yang baik antara orang tua dengan pengelola maupun pengasuh pondok pesantren.

“Sementara dari kajian manajemen pondok pesantren, harus dapat diselenggarakan dengan menyesuaikan keadaan Pondok Pesantren maupun keadaan dari para santri itu sendiri,” tambahnya.

Menurutnya, manajemen Pondok Pesantren harus dapat mengelompokkan santri sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak, sehingga kegiatan pendidikan yang ramah anak senantiasa dapat terpenuhi dengan baik.

Focus Group Discussion tersebut digelar sebagai rangkaian kegiatan hibah Program Penelitian Diktis Kementrian Agama yang diperoleh dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Unwahas Semarang, Fitria Martanti.

Kegiatan Focus Group Discussion dihadiri oleh 35 peserta, baik dari pengelola, pengasuh maupun santri pondok pesantren.

“Kegiatan tersebut ditujukan agar penggelolaan Pondok Pesantren dapat lebih memperhatikan hak-hak dasar anak dan mendasarkan pada konsep pendidikan ramah anak,” kata Fitria. (*)

(sumber : https://jateng.tribunnews.com/)

Byprodifai

PAB Racana Wahid Hasyim:Beda Fakultas, Beda Jurusan, Pramuka UKM nya

Semarang, Rahidhas– Ketua Gugus Depan 03.071 Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Ma’as Shobirin, M.Pd., buka kegiatan Penerimaan Anggota Baru Racana Wahid Hasyim (Rahidhas) di Gedung D Universitas Wahid Hasyim Sabtu (06/12) kemarin.

Kegiatan direncanakan berlangsung 2 hari, Sabtu-Minggu akan dilaksanakan di 2 tempat, Kampus I Unwahas Sampangan-Semarang dan Kampus II Unwahas Kalipancur-FK.

Pada pembukaan turut hadir jajaran pengurus Gugus Depan 03.071-03.072 Unwahas dan jajaran Kemahasiswaan Unwahas. Kegiatan yang menjadi agenda tahunan ini merupakan rekruitment anggota baru Pramuka Unwahas yang diharapkan kedepan menjadi kader-kader pemimpin yang memiliki sikap, mental, moral dan spiritual hasil produk Unwahas melalui Gerakan Pramuka.

“Saya meyakini bahwa kegiatan ini akan membentuk adek-adek memiliki sikap mental, moral dan spiritual adek-adek semua” tutur Kak Ma’as saat menyampaikan sambutan.

Sebagai mahasiswa Unwahas, lanjut dia, jangan menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), dengan mengikuti kegiatan semacam ini insya Allah tidak akan sia-sia, dan insya Allah akan berbuah dan bermanfaat.

Pesan saya, imbuh dia, perlu dilatih lagi keterampilan-keterampilan seperti public speaking, menjadi MC, menjadi Moderator, dan keterampilan lainya yang dibutuhkan di masyarakat.

Dari laporan Reka Kerja PAB disampaikan oleh Ketua Reka Kerja, Kak Sholeh, peserta Penerimaan Anggota Baru ini lebih dari 50 orang yang mengikuti, terdiri dari berbagai Fakultas dan Jurusan di Unwahas. Kegiatan ini akan dilaksanakan secara outdoor, meliputi materi-materi kepramukaan, keterampilan kepramukaan dan outbond, serta kegiatan malam diisi api unggun dan pentas seni, dan diakhir kegiatan diisi rencana tindak lanjut (RTL).

Dengan latar belakang yang berbeda diharapkan keperbedaan itu dapat menyatukan dan tetap terjaga keharmonisan di Rahidhas. “Alhamdulillah, peserta PAB tahun 2018 ramai dan bermacam-macam. Dari berbagai Fakultas dan Jurusan antusias untuk mengikuti kegiatan Pramuka di Unwahas atau Rahidhas ini.” Jelas Ketua Dewan Racana Wahid Hasyim, Kak Aris Ramadhan, saat sambutan.

Saya mewakili Dewan Rahidhas, lanjut dia, mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Pengurus Gugus Depan yang senantiasa sabar dalam membimbing, membina, menasihati, dan mendidik kami di Rahidhas ini. Semoga Rahidhas tetap harmonis dan terjaga silaturahminya. Amin.(kgms)

(sumber : http://pramukaunwahas.org/)

Byprodifai

MUSPANDEGA XI & MUSDAT 2018 Racana Wahid Hasyim

Rahidhas, Unwahas– Berkat kerjasama yang baik antara Dewan Racana Wahid Hasyim dan Reka Kerja MUSYAWARAH PANDEGA XI dan MUSYAWARAH ADAT 2018, Pramuka di pangkalan Universitas Wahid Hasyim telah menyelenggarakan Pesta Demokrasi bagi para anggota Racana Wahid Hasyim(17-18/11).

Kegiatan ini yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada hari Sabtu dan Ahad. dihadiri oleh Ka. Gudep 03.071 Kak Ma’as Shobirin, dan jajaran Mabigus Racana Wahid Hasyim yang diwakili oleh Kak Ali Imron selaku Kabag. Kemahasiswaan.

Kak Ma’as Shobirin dalam sambutannya ingin berpamitan sebagai Ka Gudep 03.071 yang selama satu tahun terakhir masa jabatannya sebagai Ka. Gudep telah habis dan akan digantikan dengan Ka. Gudep yang baru. “Mulai hari ini sampai besok adek-adek sekalian akan melaksanakan Musyawarah Pandega dan Musyawarah Adat, kakak berharap semoga nanti ada ide brilian dan gagasan yang menarik untuk Racana Wahid Hasyim agar lebih progresif dan memiliki program yang lebih menarik dari program sebelumnya” lanjut kak Ma’as

Dalam sambutannya Kak Ali Imron berterima kasih kepada Ketua Dewan Racana masa bakti 2017/2018 yang telah membawa Racana Wahid Hasyim memiliki prestasi yang membanggakan bagi Pangkalan. “dan saya berharap apapun nanti hasilnya, siapapun nanti yang terpilih, itu sudah hasil dari musyawarah mufakat dan untuk anggota racana agar turut mendukung secara bersama-sama Ketua Dewan Racana yang terpilih, Tunjukkan bahwa kalian salah satu Organisasi Mahasiswa yang harus dibanggakan oleh mahasiswa Universitas Wahid Hasyim Semarang” tegas Kak Ali

MUSPANDEGA XI merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan guna reorganisasi, atau pesta demokrasi pramuka di perguruan tinggi. Seperti organisasi pada umumnya, Gerakan Pramuka golongan Pandega ini menggunakan hak pilih dan dipilih untuk menduduki jabatan di kepengurusan Dewan Racana dan terus memperbaiki garis-garis besar program Kerja dan program kegiatan, yang nantinya akan di laksanakan oleh kepengurusan yang baru.

MUSYAWARAH ADAT merupakan kegiatan dua tahunan yang diselengarakan guna menetapkan adat kebiasaan yang ditentukan dan ditaati oleh para anggota Pramuka UNWAHAS. Adat memiliki tujuan yakni agar dengan adanya adat kebiasaan tersebut, para Pramuka dapat membiasakan diri menepati segala peraturan yang berlaku.

“jika menetapkan keputusan-keputusan harus benar-benar serius untuk satu tahun kedepan”. tegas Ketua Dewan Racana putra yang telah didomisioner, kak Moh. Aris Ramadhan. Jangan sampai tergesa-gesa, perihal menetapkan suatu aturan yang akan menentukan Racana Wahid Hasyim kedepan. lanjut kak Aris

MUSPANDEGA IX diikuti oleh seluruh anggota pramuka Racana Wahid Hasyim serta di dampingi oleh Gugus Depan dan kakak Alumni (JAWARA). Harapan kedepan adalah Racana Wahid Hasyim mampu menjalankan GBPK yang sudah di tetapkan dengan gagasan gagasan yang inovatif dari Ketua Dewan Racana terpilih. “Terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada kita untuk menjadi pemimpin adek-adek sekalian” tutur Ketua Dewan Racana terpilih kak Akhmad Yunus dalam sambutan perdananya.

Selanjutnya Seluruh Mabi dan Gugus Depan Kota Semarang 03.071-03.072 mengucapkan selamat atas terpilihnya Ketua Dewan Racana Baru Adek Akhmad Yunus dan Adek Zammiyatun Mubarokah A. semoga amanat yang diberikan mampu dijalankan dengan yang sebaik-baiknya. (GGM_45)

(Sumber : http://pramukaunwahas.org/)

Byprodifai

ROAD SHOW PPI TIONGKOK TARIK MINAT MAHASISWA UNWAHAS

Mentengpers.org – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok melakukan Road Show Education Expo  di berbagai kampus seperti Universitas Dian Nuswantoro, Universitas Muhammadiyah Semarang, UIN Walisongo, Universitas PGRI Semarang, dan Universitas Wahid Hasyim Semarang, selasa (14/08).

Acara ini dihadiri Rektor Unwahas, PPI Tiongkok, Staf Kemahasiswaan, Dosen, dan mahasiswa dari Unwahas serta Unnes.

Menurut Ali Romdhoni M.A. Kepala Pusat Kajian Ekonomi, Sosial, dan Culture PPI Tiongkok bahwa kegiatan ini murni bentuk perhatian dari PPI Tiongkok terhadap mahasiswa yang nantinya akan melanjutkan studinya ke Tiongkok.

Pada tahun 2000, mahasiswa asing yang datang ke Tiongkok 52.150 orang. Tahun 2014 naik menjadi 377.054 orang. Tahun 2016 menjadi 442.431 orang dan pelajar dari Indonesia pada tahun 2016 adalah 14.714 orang. Pada tahun 2020 pemerintah Tiongkok akan menambah kuota menjadi 500.000 orang. Itu artinya peluang besar jika ingin melanjutkan studi di Tiongkok.

“Saya bukannya mau merendahkan kampus di Indonesia, tapi bukankah di semua negara ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk itu kita mencari kelebihan di negeri lain dan nantinya diterapkan di Indonesia,” ungkap Ali.

Menambahi pernyataan Ali Romdhoni, Agus Fathuddin Yusuf S.Ag., M.A alumni Nanchang University Tiongkok menjelaskan sistem yang berada di negara bambu itu memang sudah maju diantaranya pusatnya PLN berada di Tiongkok. Selain itu pertanian di sana sudah maju. Itu mengapa dahulu Rosul pernah bersabda Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.

Pada tahun 2014 Universitas Islam Negeri Walisongo dan Universitas Wahid Hasyim menjalin kerjasama dengan Beijing Language and Culture Language University. “Sangat disayangkan jika peluang ini tidak dimanfaatkan oleh mahasiswa sekarang,” ujarnya mewanti-wanti mahasiswa Unwahas agar bisa memanfaatkan peluang ini.

Berbeda dengan Ali Romdhoni dan Agus Fathuddin Yusuf, Ma’ruf  S.H.I., L.L.M. alumni Ocean University of  Cina memaparkan cara mendapatkan beasiswa di Tiongkok. Persiapan harus dilakukan sejak awal seperti niat dan tekad, mencari informasi melalui siapa saja, mempunyai IPK lebih dari 3, kemampuan bahasa (TOEFL, IELTS, HSK), CV yang menarik.

“Mulai dari sekarang cari pengalaman yang banyak, informasi yang banyak, membuka jaringan dengan orang-orang yang sudah pernah belajar di Tiongkok. Jangan lupa juga 3D dream, do, do’a. Itu yang akan mengantarkan kita menggapai apa yang kita inginkan,” tuturnya. (Dian)

(sumber : https://www.mentengpers.com/)

Byprodifai

Madrasah Jangan Sampai Disusupi Teroris

SEMARANG, suaramerdeka.com – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Agama Kota Semarang meminta Madrasah Ibtidaiyah (MI) tidak kesusupan teroris. Ada indikasi gerakan membahayakan masuk ke MI, tapi hal itu sudah dinetralisir. Islam garis keras ini pun muncul di sekolah. Hasil penelitian, itu terjadi karena ada hubungan secara kontinyu antara alumni dengan pihak disekolah tersebut. Karenanya, pendidikan karakter ini sangat penting guna memperkuat madrasah supaya tidak terkontaminasi hal-hal negatif tersebut.

”Pendidikan karakter di madrasah sangat penting sekali, ruhnya di agama. Guru-guru juga supaya tidak mudah termakan postingan di medsos (media sosial- ), apalagi mereka terjun langsung di pendidikan sehingga jangan sampai ada gerakan membahayakan,” kata Kasi Pendidikan Madrasah, Kantor Kemenag Kota Semarang Dr Moch Fatkhuronji saat membuka seminar implementasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) MI di kampus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.

Menurut dia, guru ini bisa mempengaruhi anak karena apa yang disampaikan itu akan dipercaya para muridnya. Diakuinya, ada upaya merong-rong Indonesia menjadi negara Islam. Padahal, hal itu tidak bisa dilakukan, apalagi Indonesia memiliki enam agama yang diakui pemerintah. Seminar PPK digelar hasil kerja sama Unwahas, Kemenag Kota Semarang, dan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jateng.

Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Unwahas Dr Nur Cholid MAg MPd mengatakan, seminar ini bentuk pengabdian universitasnya dalam peningkatan profesi guru. ”Melalui kegiatan ini juga diajarkan penguatan faham ajaran Islam yang moderat. Diharapkan, pendidikan karakter ini bisa ditanamkan guru didalam kelas. Materi atau ilmu yang diterima dalam seminar bisa diimplementasikan supaya bisa dipahami anak-anak di madrasah,” ungkapnya. Selain religi, siswa juga bisa diajarkan menghargai budaya lokal.

Narasumber seminar ialah tim PPK Dinas Pendidikan Kota Semarang Bayu Wijayama MPd dan Ketua Pergunu Jateng M Faojin MPd. Menurut Faojin, tugas besar Pergunu ini salah satunya mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Negara ini beragam, terdiri atas berbagai macam suku, agama, dan bahasa.

(Sumber : https://www.suaramerdeka.com/news)

Byprodifai

Dosen Unwahas Sulap Limbah Kulit Pisang dan Kulit Singkong Jadi Keripik Renyah

Bagi kebanyakan orang, ketika mengolah pisang maupun singkong, kulitnya akan jadi limbah dan dibuang. Namun tidak dalam pandangan dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang, Linda Indiyarti Putri.

Dosen muda ini menemukan konsep olahan yang menyulap kulit pisang dan kulit singkong menjadi sajian keripik renyah sebagai pendamping makan atau camilan.

Linda mengatakan, awal pemikiran mengolah limbah kulit pisang dan kulit singkong adalah dari kegelisahannya saat menjumpai para pedagang gorengan yang membuang kulit pisang dan kulit singkong. Padahal menurutnya, kulit pisang dan kulit singkong memiliki nilai gizi dan dapat dikonsumsi.

“Kelihatannya itu (kulit pisang dan kulit singkong–red) sampah, namun apa salahnya kita olah lagi karena mengandung gizi juga,” kata Linda kepada Tribun Jateng, Senin (6/8/2018).

Linda yang juga dibantu rekannya sesama dosen di Unwahas melakukan observasi dan ujicoba berulang-ulang untuk menemukan metode olahan dan bumbu yang pas untuk menghasilkan produksi yang maksimal.

“Observasi dan uji coba sekitar dua minggu, kita all out untuk penelitian ini, sampai packaging juga kita perhatikan, agar diterima pasar,” jelas Linda.

Linda berharap hasil temuannya ini dapat diterima di masyarakat luas. Ia beralasan, temuan ini sebagai bentuk socioecopreneurship yaitu konsep kewirausahaan yang tidak hanya berorientasi terhadap profit saja melainkan juga perduli terhadap aspek sosial dan lingkungan.

Pada awalnya Linda tidak percaya kalau hasil temuannya tersebut akan mendapat respons dari masyarakat. Ketika hasil temuannya tersebut disosialisasikan pada anggota Fatayat Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati, Semarang, mendapat respons yang postif.

“Cara membuatnya mudah, mendapatkan bahannya murah, dan hasil keripiknya enak,” tutur Puji selaku ketua Fatayat setempat.

Selain itu, hasil temuan tersebut juga mendapat apresiasi dari Kementerian Agama Republik Indonesia berupa bantuan dana untuk pengembangan penelitian dan tindak lanjut.

“Model penelitian yang dilakukan ini perlu didukung, selain merupakan sebuah penelitian tetapi juga memberikan solusi pemanfaatan limbah dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemenag RI, Muhammad Aziz Hakim. (Nal)

(Sumber : https://akupintar.id/)

Byprodifai

Dosen Unwahas Semarang Lakukan Penelitian Pembelajaran di MI Miftahul Huda

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Guru merupakan pemimpin di dalam kelas pada saat pembelajaran berlangsung. Untuk itu, guru harus menguasai dan mengendalikan kelas sehingga pembelajaran menjadi kondusif.

Selain itu, guru harus tahu bagaimana cara membuat proses pembelajaran agar tidak menjenuhkan dan selalu menyenangkan bagi peserta didik, sehingga dibutuhkan penguasaan berbagai strategi pembelajaran aktif dalam prosesnya.

“Karena realitanya dalam pembelajaran, banyak guru yang masih belum bisa mengkondisikan pembelajaran sesuai yang diharapkan oleh peserta didik. Tidak hanya itu, banyak guru belum bisa memahami seperti apa pembelajaran aktif dan menyenangkan yang nantinya berpengaruh pada hasil dari proses pembelajaran itu,” kata ketua tim dosen, Ali Imron, kepada Tribun Jateng, Selasa (4/9/2018).

Ia menuturkan, strategi pembelajaran yang menjadi sorotan masa sekarang adalah bagaimana guru dapat merancang berbagai strategi agar peserta didik dapat menikmati pembelajaran dengan menyenangkan.Oleh karena itu, perlu mengadakan kegiatan pelatihan atau diskusi yang membahas serta mempelajari berbagai strategi atau metode pembelajaran aktif dan menyenangkan bagi guru.

Ia menambahkan, agar pembelajaran berjalan dengan efektif, aktif dan menyenangkan maka diperlukan keterampilan khusus bagi guru yang akan mengajar.

Sebab untuk menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan diperlukan berbagai macam kemampuan atau keterampilan.

Kemampuan atau keterampilan pembelajaran yang sangat sangat berperan tersebut antara lain keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi metode pembelajaran, membimbing pelaksanaan diskusi kelompok dan keterampilan membuka serta menutup pembelajaran.

“Karena itu, kami mencoba melakukan penelitian dengan melakukan beberapa kegiatan antara Focus Grup Discussion, pelatihan dan monitoring lapangan,” jelasnya.

Penelitian kemudian diterapkan di MI Mistahul Huda Semarang. Ia mengungkapkan, saat dilakukan monitoring lapangan, terdapat suasana yang berbeda dari biasanya saat diterapkan metode diskusi kelompok pada siswa di kelas

Guru MI Miftahul Huda Semarang, Mohlisin menyampaikan, memilih metode diskusi kelompok karena metode ini merupakan strategi yang memungkinkan peserta didik menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berfikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif.

“Dengan begitu diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas peserta didik, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya ketrampilan berbahasa serta keberanian mengunggkapkan pendapatnya dihadapan teman sekelompok dan di hadapan peserta didik lainnya,” paparnya.

Secara teknis, Mohlisin menjelaskan, diterapkannya metode diskusi dalam pembelajaran memiliki beberapa manfaat anatara lain memupuk sikap toleransi, memupuk kehidupan demokrasi, mendorong pembelajaran secara aktif dan menumbuhkan rasa percaya diri.

“Keuntungan lain yaitu mengurangi sifat pemalu, merasa terikat melaksanakan keputusan kelompok, meningkatkan pemahaman diri anak, melatih siswa untuk berfikir kritis, melatih siswa untuk mengemukakan pendapatnya dan melatih serta mengembangkan jiwa social pada diri peserta didik,” tambahnya. (*)

(sumber : https://jateng.tribunnews.com/)

Byprodifai

Dosen Al Azhar Mesir Sampaikan Alquran Menekankan Toleransi saat Seminar di Unwahas

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Pendidikan dalam perpektif Alquran adalah pendidikan Akhlaq.

Hal ini disampaikan dosen Universitas Al Azhar Mesir, Syaikh Said Muhammad Ali Al Husaini, dalam seminar internasional “Pendidikan Islam dalam Perspektif Al Qur’an dan Hadits” di Aula Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Jawa Tengah, Selasa (7/11/2017) kemarin.

Dalam seminar yang diselenggarakan Fakultas Agama Islam Unwahas ini hadir pembicara lain yaitu Dekan FAI Unwahas, Nur Cholid, dan Direktur Aswaja Center, Syaifuddin.

Said Muhammad Ali menyampaikan bahwa aspek terpenting pendidikan dalam Alquran adalah pendidikan akhlaq, dan menekankan pentingnya toleransi dalam bermasyarakat.

Di dalam masyarakat yang majemuk masyarakat harus dapat menerapkan pendidikan pada anak dengan keragamannya.

“Alquran menekankan bahwa pentingnya toleransi dalam bermasyarakat, hal ini terbukti bahwa dalam Alquran banyak memberikan contoh toleransi dalam pergaulan yang menjadi dasar dalam pendidikan karakter yang berbasis multikultur,” katanya, seperti dalam rilis yang dikirim kepada Tribun Jateng, Rabu (8/11/2017).

Ia menuturkan, manusia menurut Alquran diberi anugrah berupa dua pontensi, yaitu akal dan jiwa.

Dengan akal, manusia akan memperoleh pengetahuan secara kognitif untuk memahami nikmat Allah, dan dengan jiwa, manusia akan mampu menyeleksi pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya.

“Alquran mengenalkan kepada manusia bahwa Allah menganugrahkan manusia dengan dua potensi: pertama, akal, dengan akal manusia berkesempatan untuk memperoleh pengetahuan secara kognitif yang berguna untuk memahami nikmat Allah,” ujar Said.

“Kedua, jiwa, dengan jiwa manusia akan mampu menyeleksi pengetahuan yang diperoleh agar dapat lebih bermanfaat bagi diri dan orang lain dalam kerangka mencari ridho Allah,” lanjutnya.

Dekan FAI, Nur Cholid, dalam uraiannya menyampaikan bahwa manusia terlahir dalam keadaan tidak mempunyai pengetahuan, kemudia Allah memberkati manusia dalam penciptaannya dengan indra untuk mendapatkan pengetahuan dan menemukan potensi-potensi diri yang berujung pada kompetensi spiritual tertinggi yaitu rasa syukur.

Narasumber lain, Direktur Aswaja Center, M Syaifuddin menambahkan, pendidikan dalam Al-Quran bersifat komprehensif, dan sejatinya pendidikan dalam Islam adalah pendidikan yang mengedepankan kasih sayang (rahmah), yang bersifat anti bullying, anarkisme, dan terorisme.

(sumber : https://jateng.tribunnews.com/)