Category Archive Berita

Byprodifai

Delapan Dosen Ikuti Peningkatan Kompetensi Penelitian di Belanda

SEMARANG, suaramerdeka.com – Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) Ma’as Shobirin, bersama delapan dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan swasta mengikuti kursus singkat di Universitas Leiden Belanda.

Wakil Rektor Unwahas Andi Purwono menjelaskan, pengiriman dosen tersebut dalam rangka peningkatan kompetensi bidang penelitian. ”Yang sedang berlangsung di Belanda ini merupakan program Diktis Kementerian Agama RI melalui berbagai macam program, salah satu di antaranya adalah pelaksanaan program Short Course Metodologi Penelitian di Universitas Leiden Belanda,” katanya.

Pelaksana program tersebut, Diktis Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Leiden University Centre for The Study of Islam and Society (LUCIS) yang diketuai Prof Dr Petra Sijpestijn.

Kursus berlangsung selama satu bulan 20 Agustus hingga 22 September 2018. Pada tahun ini, Diktis, Subdit Penelitian memberangkatkan sembilan dosen dari PTKIN dan PTKIS. Selain Ma’as Shobirin peserta lainnya yaitu Muhammad Ghafur Wibowo (UIN Sunan Kalijaga), Fikria Najitama (IAINU Kebumen), Ries Wulandari (STEI Tazkia Bogor), Fatiyah (UIN Sunan Kalijaga), Fitri Annisa (IAI Latifah Mubarokiyah Tasikmalaya), Atikatul Himmah (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Sumenep), Ali Halidin (IAIN Pare-pare) Lalu Muhammad Ariadi (IAI Hamzanwadi NW Pancor Lombok Timur).

”Mereka memperoleh kesempatan mengikuti program ini dengan beberapa syarat dan tahapan seleksi yang ditentukan oleh pihak penyelenggara yakni seleksi administrasi dan presentasi proposal riset,” kata Andi.

Dalam program ini, Ma’as Shobirin menjelaskan, materi yang diikuti dalam short course  meliputi studi metodologi riset, akademik writing dan kajian Islam di perpustakaan Universitas Leiden Belanda. Para peserta mendapat kesempatan mengakses perpustakaan Leiden yang kaya akan sumber-sumber kajian keIslaman dan keIndonesiaan serta mendapat bimbingan penguatan penelitian tentang studi Islam di Indonesia. Beberapa profesor dan peneliti terlibat sebagai pengajar dalam short course ini, di antaranya Prof Dr David Henley, salah satu peneliti yang mengkaji tentang Contemporary Indonesia, Dr Nico Captain Islam and Souheast Asia, Prof Dr Wadad Kadi serta beberapa pengajar lainnya.

Dari kegiatan ini diharapkan peserta mampu menghasilkan proposal riset serta draft artikel ilmiah yang berkualitas.

Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang, Prof Dr H Mahmuhtarom HR SH MH mengapresiasi pencapaian salah satu dosennya, diharapkan para dosen Unwahas terus meningkatkan kemampuannya dalam riset dan menghasilkan hasil riset yang berkualitas. “Saya menyambut baik dan mengapresiasi dengan akselerasi yang dilakukan oleh dosen FAI Unwahas dalam upaya mengembangkan kemampuannya dalam bidang riset,” jelasnya.

Dekan FAI, Nur Cholid, mengatakan, pengiriman dosen ke Belanda merupakan salah satu prestasi yang membanggakan. ”Semoga pengalaman yang diperoleh dapat dibagi kepada dosen-dosen lainnya yang belum mendapat kesempatan langka ini,” katanya.

 

(Sumber: https://www.suaramerdeka.com/news)

Byprodifai

BLAS Jalin Kerja Sama dengan UNWAHAS

Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang (BLAS) dan Universitas Wahid Hasyim Semarang (UNWAHAS) menjalin kerja sama dengan penandatanganan nota kesepahaman atau MoU di bidang penelitian, Kamis (19/10) di Aula Gedung C Lantai 3 Universitas Wahid Hasyim Semarang

Koeswinarno kepala Blas mengatakan, lembaga kami memiliki tiga bidang penelitian yakni. Pertama, Bidang Bimbingan Masyarakat dan Layanan Keagamaan. Kedua, Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan. Ketiga, Bidang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi. “Dari tiga bidang tersebut, BLAS bisa menjalin kerjasama penelitian kolaboratif karena kami sering mengadakan penelitian antar lembaga,” tambah Koes.

“Kami hanya memiliki 30 peneliti, tugasnya melakukan penelitian di 9 wilayah kerja, untuk menjangkau semuanya, maka memerlukan kerjasama,” ungkap Koes.

Sementara itu Mahmutarom selaku Rektor UNWAHAS menuturkan dalam kerjasama di bidang penelitian ini diharapkan akan menemukan model-model pendidikan yang akan menangkal radikalisme. Semangat jiwa yang kokoh dengan dibentengi dengan akidah yang kuat akan mampu membendung paham radikal.

Setelah penandatanganan MoU, dilanjutkan dengan seminar pendidikan dengan tema menangkal Gerakan Radikalisme di Lembaga Pendidikan”. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Koeswinarno kepala BLAS, Tedi Kholiludin dosen UNWAHAS, dan Sadi ketua MGMP PAI SMA Kota Semarang. (oji)

(Sumber:https://blasemarang.kemenag.go.id/)

Byprodifai

BIN Ajak BEM PTNU Waspada Aksi Radikalisme

SEMARANG-Badan Intelijen Negara(BIN) mengajak kepada ratusan BEM Perguruan Tinggu Nahdlatul Ulama (PTNU) se-nusantara untuk bersatu membendung adanya serangan maraknya isu radikalisme. Semua harus kerjasama bersama-sama antara BIN, Polri, mahasiswa, kelompok cendekiawan dan kaum birokrat.

“Inilah pentingnya kita bisa bersama-sama berkumpul dalam acara ini untuk menjaga negara kita dari serangan radikalisme,” tegas Kepala BIN Jenderal Pol Drs Budi Gunawan SH MSi PhD di hadapan ratusan BEM PTNU dalam Kongres VI di Kampus III FK Unwahas, Sabtu (28/4). Acara juga dihadiri pejabat dari BNPT Dr Suaib Thohir, Anggota DPR RI Prof Dr Noor Achmad MA, Rektor Unwahas Prof Mahmutarom, mantan Napi Teroris Yudi Zulfahri dan tamu undangan.

Kongres VI BEM PTNU bertema ”Meneguhkan Peran Serta PTNU dalam Menangkal Radikalisme dan Terorisme”, Budi mengajak pentingnya peran PTNU dalam menangkal radikalisme dan terorisme kegiatan ini didasari karena ada keprihatinan mahasiswa atas situasi keamanan nasional. Paham radikalisme mulai menyasar mahasiswa dan pelajar untuk menyebarkan ideologi mereka.

“BIN mendukung mahasiswa menggelar aksi deklarasi untuk menolak segala bentuk aksi deradikalisasi yeng mengatasnamakan agama. Intoleransi bukanlah budaya bangsa Indonesia sehingga segala bentuk deradikalisasi tidak sesuai dengan ideologi bangsa,” terangnya.

Acara tersebut juga ada dialog antara BNPT, PTNU dan mantan Napi Terorisme Yudi Zulfahri yang menarik perhatian. Yudi menegaskan, dahulu dirinya pernah terlibat aksi – aksi terorisme menyimpang di Aceh. “Saat ini saya sudah sadar atas sikap dan kesalahan saya. Dan sekarang sudah sadar fokus kuliah S2 dan meninggalkan sikap yang menyimpang untuk negara,” pungkasnya. (04)

 

(Sumber : https://jatengnews.net/)